SEJARAH, CERITA, LEGENDA & MITOS: CERMIS
Showing posts with label CERMIS. Show all posts
Showing posts with label CERMIS. Show all posts

Wednesday, 10 January 2018

Misteri Gunung Ciremai dan Mitos Nini Pelet.

21:47:00 3

Gunung Ciremai yang berketinggian 3078 meter di atas permukaan laut memiliki banyak jenis tumbuhan. Mulai dari pohon pinus, pohon seruni, dan dan pohon kopi. Jenis margasatwa pun banyak berkeliaran. Dari sekian banyak tumbuhan dan jenis burung ada beberapa hewan yang dipercaya mempunyai kekuatan mistik. Mendekati puncak, banyak beterbangan ayam alas dengan bulunya yang bersih mengkilat. Gunung Ciremai identik dengan Sunan Gunung Jati, salah satu Walisongo, penyebar Islam di Jawa Barat.
Sekitar tahun 1521-1530, Sunan Gunung Jati diyakini bertapa di puncak Ciremai. Ketika itu, bangsa Portugis begitu kuat menekan para ulama, pejuang, dan rakyat kecil. Menjelang peperangan, Sunan Gunung Jati naik ke puncak Ciremai bertapa, menyendiri dan bermunajad kepada Tuhan. Tempat tapa dan pertemuan para wali itu bernama Batulingga dan diyakini oleh masyarakat Cirebon sebagai tempat ngalap berkah memberi manfaat dan membantu orang-orang yang dalam kesulitan.
Nyi Linggi dan Macan Tutul
Satu misteri yang selalu menjadi perbincangan masyarakat sekitar Gunung Ciremai adalah misteri Nyi Linggi dan dua macan kumbang. Menurut Maman, salah satu juru kunci Ciremai, setelah Sunan Gunung Jati tidak bertapa di Batulingga, maka Nyi Linggi datang ke tempat tersebut menggantikan Sunan Gunung Jati.
Namun kedatangan Nyi Linggi ke Batulingga tidak sendirian, ia ditemani oleh dua binatang kesayangannya yaitu macan tutul. Kedatangan Nyi Linggi ke Batulingga ingin mendapatkan ilmu kedigdayaan. Tapi sayangnya Nyi Linggi gagal memperoleh ilmu yang diinginkan. Nyi Linggi meninggal dunia di Batulingga sementara dua temannya yaitu macan tutul hilang entah ke mana. Kabarnya masyarakat setempat menemukan mayat Nyi Linggi. Kejadian aneh sering terjadi di sekitar Batulingga, yaitu sosok Nyi Linggi dan dua macan tutul sering menampakkan diri.
Cikal Bakal Nenek Moyang
Selain sebagai tempat bertapanya Sunan Gunung Jati, ternyata Gunung Ciremai sejak ribuan tahun silam telah dihuni oleh manusia purba. Masyarakat Kuningan dan sekitarnya terutama mereka yang hidup di kawasan kaki Gunung Ciremai merasa bangga. Mereka yakin bahwa asal-usul orang-orang Jawa Barat datangnya dari Gunung Ciremai. Keyakinan tentang hal ini diperkuat oleh ditemukannya beberapa benda bebatuan yang diyakini zaman Batu Besar. Umurnya sekitar 3.000 tahun Sebelum Masehi.
Pada tahun 1972 ditemukan batu besar berbentuk peti mati. Penemuan itu mengandung makna bahwa di kaki Gunung Ciremai telah dihuni oleh manusia sejak ribuan tahun Sebelum Masehi. Dipercaya pula bahwa arwah nenek moyang berkumpul dan sering menampakkan diri. Para ahli peneliti sepakat bila wilayah Kuningan Gunung Ciremai merupakan tempat bermukim manusia tua usia. Mereka memuja arwah nenek moyang untuk meminta berkah kesuburan tanah, kemakmuran, dan kesejahteraan.
Injak Bumi Hindari Hantu
Maman (juru kunci Ciremai yang mengantar posmo ke puncak Ciremai) selalu menghentikan langkahnya dan mengucapkan Assalamualikum ketika memasuki pos. Menurut Maman, jika ingin selamat dan tidak diganggu oleh dedemit nakal injak bumi sebanyak tiga kali lalu ucapkan salam. Ini bermakna bahwa penghuni pos atau dedemit penguasa tidak merasa tersinggung oleh datangnya manusia. ‘’Di sini (Ciremai) banyak manusia jadi korban. Tidak hanya manusia yang mati, tapi juga kuda. Mereka tidak kuat melaksanakan tugas yang dibebankan penjajah Belanda, hingga menemui ajalnya,’’ kata Maman.
Misteri Jalak Hitam
Ketika perjalanan sudah mencapai Pengalap atau pos VI, berarti pendakian telah mencapai separuh. Dan harus berhati-hati jika sudah memasuki Pengalap atau pos VI. Pengalap berarti jemputan. Di pos Pengalap setiap pendaki akan didatangi dua binatang yang sampai sekarang masih misteri keberandaannya, yaitu Jalak Hitam dan Tawon Hitam.
Maman yang mengaku naik ke puncak 3 kali setiap bulan, sampai sekarang mengaku belum tahu mengapa Jalak Hitam selalu mengiringi pendaki dari Pengalap ke Seruni. Dan, juga Tawon Hitam yang selalu datang mengganggu. Pengasinan berarti asin. Khusus bagi masyarakat Linggarjati bermakna bahwa siapa saja yang ingin mencapai puncaknya dengan cepat dan selamat sampai di rumah diharuskan membawa ikan asin.
Enam Belas Jam Menuju Puncak
Gunung Ciremai diapit dua kabupaten yaitu Kuningan sebelah timur dan Majalengka sebelah barat. Untuk mencapai puncak Ciremai bisa melalui tiga jalur yaitu Linggarjati dari arah timur, Pelutungan dari arah selatan, dan Majalengka dari arah barat. Medan paling berat dan menguras tenaga dan juga sangat berbahaya adalah jalur dari sisi timur melewati Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Jarak tempuhnya kurang lebih 8 km, 90 persen jalannya terjal.
Gunung Ciremai termasuk salah satu gunung paling berat di tanah Jawa. Masyarakat setempat dan juga para pendaki menyebutnya jalur maut. Untuk mencapai puncaknya butuh waktu sekitar 12 sampai 16 jam perjalanan. Tergantung kekuatan fisik pendaki. Gunung Ciremai memang tidak terlalu tinggi, hanya 3.078 mdpl. Namun start pendakian dimulai dari ketinggian sekitar 750 mdpl, maka perjalanan cukup panjang.
Dengan demikian, sisa perjalanan menuju puncak Ciremai sekitar 2.350 meter garis vertikal atau sekitar 8 km melalui jalur. Perlu diketahuil, dari semua gunung yang ada di tanah Jawa hanya Gunung Ciremai-lah yang start pendakiannya dimulai dari ketinggian 750 mdpl. Jalur dakinya tidak ada jalan datar, 90 persen berjalur terjal dan sudut kemiringannya antara 70 sampai 80 derajat.
Pantangan di Gunung Ciremai
Menurut juru kunci gunung, pantangan di Gunung Ciremai tidak boleh mengeluh, memegang lutut, kencing dan buang air besar sembarangan. Setiap memasuki pos diharuskan mengucapkan salam sebagai tanda minta izin masuk dan pertanda kesopanan. Menurut Maman, setiap pos yang jumlahnya 12 pos banyak dihuni dedemit. Ucapan salam tidak hanya ketika datang tapi juga saat meninggalkan gunung.
Diposkan oleh 'blog penasaran' di 08.59
Gunung Ciremai juga terkenal dengan mitos Nini Pelet.
Pelet itu berasal dari nama seorang tokoh legendaris, ialah Nini Pelet dari gunung Ciremai Cirebon, dan Mbah Buyut Pelet dari Pajajaran.
Jadi istilah Pelet yg bertujuan untuk menarik pujaan hati,
ialah berasal dari istilah ketenaran seorang tokoh yg ilmunya sangat hebat dalam bidang percintaan, yg dalam hal ini ialah kedua tokoh dari Sunda tersebut
Spirit dari Nini Pelet, ialah Djinn Quraesin dari Rawa Onom Banjar Parahyangan zaman Prabu Selang Kuning, sebagian berpendapat dewi quraesin ini bukan dari rawa onom tapi bertempat di kaki gunung ciremai .
Dewi Quraesin dan Nyi Pelet itu dapat dikalahkan keilmuannya oleh Ki Buyut Mangun Tapa dari Cirebon keturunan Mbah Kuwu Cakrabuana dan Kitab Ilmu Pelet Dewi Quraesin dapat direbut oleh Ki Buyut dan dipelajari juga disempurnakan dengan keilmuan hikmah. Sehingga Ilmu Pelet Jaran Goyang sekarang terbagi menjadi 2 silsilah dan khodam ada yang berasal dari Nini Pelet dan Dewi Quraesin ada yang berasal dari Ki Buyut Mangun Tapa.
JALUR PENDAKIAN GUNUNG CIREMAI
Jalur Linggarjati
Jalur pendakian dari Linggarjati ini sangat jelas, karenanya menjadi pilihan utama para pendaki. Dibandingkan dengan jalur lain, jalur Palutungan misalnya, jalur Linggarjati ini lebih curam dan sulit, dengan kemiringan sampai 70 derajat. Di jalur ini air hanya terdapat di Cibunar.
Dari Desa Linggarjati berjalan lurus, kurang lebih 1/2 jam, mengikuti jalan desa melewati hutan pinus, kita akan sampai di Cibunar (750 m.dpl). Disini kita menjumpai jalan bercabang, ke arah kiri menuju sumber air dan lurus ke arah puncak. Kalau tidak bermalam di Desa Linggarjati, kita bisa berkemah di Cibunar ini.
Persediaan air hendaknya dipersiapkan disini untuk perjalanan pulang pergi, karena setelah ini tidak ada lagi mata air. Dari Cibunar, kita mulai mendaki melewati perladangan dan hutan Pinus, dan kita akan melewati Leuweung Datar (1.285 m.dpl), Condang Amis (1.350 m.dpl), dan Blok Kuburan Kuda (1.580 m.dpl), disini kita dapat mendirikan tenda. Dari Cibunar sampai ke Blok Kuburan Kuda dibutuhkan waktu kira-kira 3 jam.
Jalur akan semakin curam dan kita akan melewati Pengalap (1.790 m.dpl) dan Tanjakan Binbin (1.920 m.dpl) dimana kita bisa temui pohon-pohon palem merah. Selanjutnya kita lewati Tanjakan Seruni (2.080 m.dpl), dan Bapa Tere (2.200 m.dpl), kemudian kita sampai di Batu Lingga (2.400m.dpl), dimana terdapat sebuah batu cukup besar ditengah jalur. Menurut cerita rakyat, dasar kawah Gunung Ciremai sama tingginya dengan Batu Lingga ini. Perjalanan dari Kuburan Kuda sampai ke Batu Lingga ini memakan waktu sekitar 3 - 4 jam. Di beberapa pos, kita dapat jumpai nama tempat tersebut, walaupun kadang kurang jelas karena dirusak. Dari Batu Lingga kita akan melewati Sangga Buana Bawah (2.545 m.dpl) dan Sangga Buana Atas (2.665 m.dpl), mulai di jalur ini kita bisa memandang kearah pantai Cirebon. Burungburung juga akan lebih mudah kita jumpai di daerah ini, dan selanjutnya kita akan sampai di Pengasinan (2.860 m dpl), yang dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dari Batu Lingga. Di sekitar Pengasinan ini akan dijumpai Edelweis Jawa (Bunga Salju) yang langka itu, namun dari waktu ke waktu semakin berkurang populasinya. Dari Pengasinan menuju puncak Sunan Telaga atau Sunan Cirebon (3.078 m.dpl) masih dibutuhkan waktu sekitar 0,5 jam lagi, dengan melewati jalur yang berbatu-batu.
Dari puncak, akan kita saksikan pemandangan kawah-kawah Gunung Ciremai yang fantastis. Bila cuaca cerah kita juga dapat menikmati panorama yang menarik ke arah kota Cirebon, Majalengka, Bandung, Laut Jawa, Gunung Slamet dan gunung-gunung di Jawa Barat. Pemandangan lebih menarik akan kita jumpai pada waktu matahari terbit dari arah Laut Jawa. Suhu di puncak bisa mencapai 8 -13 C. Dari puncak ke arah kanan kita bisa menuju ke kawah belerang yang ditempuh dalam 1,5 jam perjalanan. Untuk mengitari puncak dan kawah-kawahnya, diperlukan waktu 2,5 jam.
Dari Puncak kearah kiri 15 - 20 menit perjalanan, kita akan jumpai 3 buah cerukan, yang posisinya lebih rendah dari puncak dinding kawah, tempat yang cukup nyaman untuk bermalam dan berlindung dari tiupan angin kencang dari arah kawah.
Perjalanan mendaki puncak Gunung Ciremai rata-rata membutuhkan waktu 8-11 jam dan 5-6 jam untuk turun, dengan demikian kita harus mendirikan tenda di perjalanan. Karena itu perlengkapan tidur (sleeping bag, tenda dsb.), dan perlengkapan masa adalah suatu keharusan.
Pendakian pada musim kemarau cukup menyenangkan karena cuaca lebih bersahabat, dan kondisi medan tidak terlalu licin, serta pemandangan lebih cerah.
Jalur Palutungan
Jalur Palutungan tidak terlalu curam seperti jalur Linggarjati, tetapi kita harus menambah waktu tempuh 2-3 jam. Dari Terminal Kuningan kita bisa langsung menuju Desa Palutungan yang jaraknya 9 km dengan Angkutan Pedesaan. Fasilitas telepon Interlokal terakhir tersedia di Kuningan. Di Palutungan hanya ada toko-toko kecil, maka sebaiknya keperluan logistik untuk bekal pendakian dipenuhi di Kuningan. Di Desa Palutungan terdapat areal perkemahan yang bernama Bumi Perkemahan Erpah, perjalanan hanya membutuhkan waktu 10 menit, dan setiap hari libur banyak pengunjung berwisata di tempat ini. Persedian air untuk pendakian sebaiknya disiapkan di desa ini dan untuk menginap.
Dari Palutungan pendakian kita teruskan melalui Cigowong Girang (1.450 m.dpl), selama 3 jam perjalanan, dimana terdapat sebuah sungai kecil yang lebarnya ± 1 - 1,5 m. Disini kita bisa menambah persediaan air dan mendirikan tenda di tempat ini, walaupun tempatnya kurang memadai dan suhu sudah cukup dingin. Selanjutnya kita akan memasuki hutan dan melalui Blok Kuta (1.690 m.dpl) dan Blok Pangguyungan Badak (1.790 m.dpl).
Dari Tegal Jumuju perjalanan kita teruskan menuju ke Sanghyang Rangkah, Selama 2 jam perjalanan. Di Sanghyang Rangkah menuju terdapat lokasi pemujaan yang sering di pergunakan oleh penduduk di sekitar lereng untuk upacara memohon keselamatan. Dari sini perjalanan kita teruskan menuju ke Gua Walet (2.925 m dpl), selama 4 jam perjalanan.
Gua walet merupakan bekas letusan yang berbentuk terowongan. Disini kita juga bisa mendirikan tenda untuk bermalam. Esok harinya kita bisa menuju ke Tepi Kawah (3.056 m dpl) dan Langsung ke puncak, selam 3 jam perjalanan.
Pemanduan, Perijinan dan Keadaan Darurat
Jika ingin mendaki Gunung Ciremai kita dapat meminta ijin di PERHUTANI Kuningan dan Polisi setempat (POLSEK Kuningan), dengan alamat: PERHUTANI KPH Kuningan Jl. Siliwangi 43 Kuningan- Jawa Barat (Telp. 0232-81144). Kita juga harus mendapat Rekomendasi dari Dinas Sosial Politik (Ditsospol) Kabupaten Kuningan dan Ijin dari Kepolisian Resort Kuningan.
Bila kita mendaki lewat Desa Linggarjati, kita harus melapor ke petugas PERHUTANI, Pak Juned untuk perbaikan pondok pendaki. Pak Juned dapat memberi informasi tentang jalur pendakian Gunung Ciremai, juga bisa membantu mencarikan pemandu atau porter. Bila kita lewat jalur Apui kita melapor dahulu kepada PERHUTANI unit Apui.Untuk mencari Pemandu gunung dapat di cari di Apui. Bila terjadi keadaan darurat saat melakukan pendakian di Gunung Ciremai selain menghubungi aparat desa setempat,bisa juga menghubungi Organisasi Pencinta Alam, AKAR di Kuningan dan WANADRI di Bandung.
Perjalanan kita teruskan dengan melewati Blok Arban (2.030 m.dpl), kemudian Tanjakan Assoy (2.108 m.dpl). Di tempat ini kita bisa beristirahat sebelum melewati tanjakan yang cukup curam. Dari Cigowong Girang diperlukan waktu 4-5 jam menuju tempat ini. Selanjutnya kita akan melewati Blok Pesanggrahan (2.450 m.dpl) dan Blok Sanghyang Ropoh (2.590 m.dpl), kemudian kita akan sampai pada pertigaan (2.700 m.dpl) yang menuju ke Apui dan ke Kawah Gua Walet. Kira-kira 2 jam waktu tempuh dari Tanjakan Assoy ke pertigaan ini. Dari pertigaan kita menuju Kawah Gua Walet (2.925 m.dpl) dan ke puncak Sunan Cirebon, yang diperlukan waktu 1,5 jam perjalanan.
Jalur Maja (via Apui, Cipanas )
Untuk mencapai kampung Apui, Cipanas. Dari arah kota Cirebon naik bus menuju ke Majalengka, lalu dilanjutkan dengan naik minibus menuju ke Maja (556 m dpl). Setelah sampai di Maja kita turun dan naik lagi Angkutan Pedesaan menuju ke Desa Cipanas. Di Desa Cipanas kita akan menemui lahan bekas perkebunan Teh Argalingga yang sangat luas tapi sekrang telah berubah menjadi lahan sayur-sayuran. Di sini saat matahari tenggelam di ufuk barat pemandangannya sangat indah.
Dari desa Cipanas, perjalanan kita teruskan menuju ke kampung Apui (1.100 m dpl) dengan angkutan pedesaan. Setiba di kampung Apui kita mempersipakan kebutuhan air karena sepanjang jalur pendakian tidak terdapat mata air. Kampung Apui, Mayoritas penduduknya Sunda dan bermata pencaharian sebagai petani sayur-sayuran. Jalan masuk ke kampung ini banyak terdapat tanjakan - tanjakan dengan kemiringan hampir 70 derajat.
Awal pendakian dimulai melewati perladangan dan hutang produksi selam 3-4 jam kita akan sampai di Berod. Disini kita akan menemui pertigaan, kita ambil yang ke arah puncak). Setiba di Berod perjalanan kita teruskan menuju ke Simpang Lima (Perempatan Alur), perjalanan memakan waktu sekitar 0,5 jam dari Berod, lalu di teruskan menuju Tegal Mersawah. Di Tegal Mersawah perjalanan langsung kita teruskan menuju ke Pangguyangan Badak. Disini kita bisa beristirahat. Perjalanan kita teruskan 2 jam lagi kita akan sampai di Tegal Jumuju (2.520 m dpl). Dari Tegal Jumuju perjalanan kita teruskan menuju ke Sanghyang Rangkah, Selama 2 jam perjalanan. Di Sanghyang Rangkah menuju terdapat lokasi pemujaan yang sering di pergunakan oleh penduduk di sekitar lereng untuk upacara memohon keselamatan. Dari sini perjalanan kita teruskan menuju ke Gua Walet (2.925 m dpl), selama 4 jam perjalanan.
Gua walet merupakan bekas letusan yang berbentuk terowongan. Disini kita juga bisa mendirikan tenda untuk bermalam. Esok harinya kita bisa menuju ke Tepi Kawah (3.056 m dpl) dan Langsung ke puncak, selam 3 jam perjalanan.
Pemanduan, Perijinan dan Keadaan Darurat
Jika ingin mendaki Gunung Ciremai kita dapat meminta ijin di PERHUTANI Kuningan dan Polisi setempat (POLSEK Kuningan), dengan alamat: PERHUTANI KPH Kuningan Jl. Siliwangi 43 Kuningan- Jawa Barat (Telp. 0232-81144). Kita juga harus mendapat Rekomendasi dari Dinas Sosial Politik (Ditsospol) Kabupaten Kuningan dan Ijin dari Kepolisian Resort Kuningan.
Read More

Tuesday, 2 January 2018

Sejarah Kota dan Kabupaten Semarang

21:24:00 1

PEMERINTAH KOTA SEMARANG
Slogan: Semarang Kota ATLAS (Aman, Tertib, Lancar, Asri dan Sehat)
Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, Indonesia sekaligus kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan.[rujukan?] Sebagai salah satu kota paling berkembang di Pulau Jawa, Kota Semarang mempunyai jumlah penduduk yang hampir mencapai 2 juta jiwa. Bahkan, Area Metropolitan Kedungsapur (Kendal, Demak, Ungaran Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Purwodadi Grobogan) dengan penduduk sekitar 6 juta jiwa, merupakan Wilayah Metropolis terpadat ke 4, setelah Jabodetabek (Jakarta), Bandung Raya dan Gerbangkertosusilo (Surabaya).[rujukan?] Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Semarang ditandai pula dengan munculnya beberapa gedung pencakar langit di beberapa sudut kota. Sayangnya, pesatnya jumlah penduduk membuat kemacetan lalu lintas di dalam Kota Semarang semakin parah. Kota Semarang dipimpin oleh wali kota Hendrar Prihadi, S.E, M.M. Kota ini terletak sekitar 466 km sebelah timur Jakarta, atau 312 km sebelah barat Surabaya, atau 624 km sebalah barat daya Banjarmasin (via udara). Semarang berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Demak di timur, Kabupaten Semarang di selatan, dan Kabupaten Kendal di barat.Luas Kota 373.67 km2
Geografi
Daerah dataran rendah di Kota Semarang sangat sempit, yakni sekitar 4 kilometer dari garis pantai. Dataran rendah ini dikenal dengan sebutan kota bawah. Kawasan kota bawah seringkali dilanda banjir, dan di sejumlah kawasan, banjir ini disebabkan luapan air laut (rob). Di sebelah selatan merupakan dataran tinggi, yang dikenal dengan sebutan kota atas, di antaranya meliputi Kecamatan Candi, Mijen, Gunungpati,Tembalang dan Banyumanik. Pusat pertumbuhan di Semarang sebagai pusat aktivitas dan aglomerasi penduduk muncul menjadi kota kecil baru, seperti di Semarang bagian atas tumbuhnya daerah Banyumanik sebagai pusat aktivitas dan aglomerasi penduduk Kota Semarang bagian atas menjadikan daerah ini cukup padat. Fasilitas umum dan sosial yang mendukung aktivitas penduduk dalam bekerja maupun sebagai tempat tinggal juga telah terpenuhi. Banyumanik menjadi pusat pertumbuhan baru di Semarang bagian atas, dikarenakan munculnya aglomerasi perumahan di daerah ini. Dahulunya Banyumanik hanya merupakan daerah sepi tempat tinggal penduduk Semarang yang bekerja di Semarang bawah (hanya sebagai dormitory town). Namun saat ini daerah ini menjadi pusat aktivitas dan pertumbuhan baru di Kota Semarang, dengan dukungan infrastruktur jalan dan aksessibilitas yang terjangkau. Fasilitas perdagangan dan perumahan baru banyak bermunculan di daerah ini, seperti Carefour, Mall Banyumanik, Ada Swalayan, Perumahan Banyumanik, Perumahan Pucang Gading, dan fasilitas pendidikan baik negeri maupun swasta, seperti Undip, Polines, Unika, dll, dengan dukungan akses jalan tol dan terminal moda yang memperlancar transportasi. Cepatnya pertumbuhan di daerah ini dikarenakan kondisi lahan di Semarang bawah sering terkena bencana rob banjir.
Sejarah
Sejarah Semarang berawal kurang lebih pada abad ke-8 M, yaitu daerah pesisir yang bernama Pragota (sekarang menjadi Bergota) dan merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Daerah tersebut pada masa itu merupakan pelabuhan dan di depannya terdapat gugusan pulau-pulau kecil. Akibat pengendapan, yang hingga sekarang masih terus berlangsung, gugusan tersebut sekarang menyatu membentuk daratan. Bagian kota Semarang Bawah yang dikenal sekarang ini dengan demikian dahulu merupakan laut. Pelabuhan tersebut diperkirakan berada di daerah Pasar Bulu sekarang dan memanjang masuk ke Pelabuhan Simongan, tempat armada Laksamana Cheng Ho bersandar pada tahun 1405 M. Di tempat pendaratannya, Laksamana Cheng Ho mendirikan kelenteng dan mesjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan disebut Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu).
Pada akhir abad ke-15 M ada seseorang ditempatkan oleh Kerajaan Demak, dikenal sebagai Pangeran Made Pandan (Sunan Pandanaran I), untuk menyebarkan agama Islam dari perbukitan Pragota. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur, dari sela-sela kesuburan itu muncullah pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang), sehingga memberikan gelar atau nama daerah itu menjadi Semarang.
Sebagai pendiri desa, kemudian menjadi kepala daerah setempat, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I. Sepeninggalnya, pimpinan daerah dipegang oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II (kelak disebut sebagai Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran II atau Sunan Pandanaran Bayat atau Ki Ageng Pandanaran atau Sunan Pandanaran saja). Di bawah pimpinan Pandan Arang II, daerah Semarang semakin menunjukkan pertumbuhannya yang meningkat, sehingga menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Karena persyaratan peningkatan daerah dapat dipenuhi, maka diputuskan untuk menjadikan Semarang setingkat dengan Kabupaten. Pada tanggal 2 Mei 1547 bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 rabiul awal tahun 954 H disahkan oleh Sultan Hadiwijaya setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga. Tanggal 2 Mei kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Semarang.
Klenteng Sam Po Kong
Kemudian pada tahun 1678 Amangkurat II dari Mataram, berjanji kepada VOC untuk memberikan Semarang sebagai pembayaran hutangnya, dia mengklaim daerah Priangan dan pajak dari pelabuhan pesisir sampai hutangnya lunas. Pada tahun 1705 Susuhunan Pakubuwono I menyerahkan Semarang kepada VOC sebagai bagian dari perjanjiannya karena telah dibantu untuk merebut Kartasura. Sejak saat itu Semarang resmi menjadi kota milik VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda.
Pada tahun 1906 dengan Stanblat Nomor 120 tahun 1906 dibentuklah Pemerintah Gemeente. Pemerintah kota besar ini dikepalai oleh seorang Burgemeester (Wali kota). Sistem Pemerintahan ini dipegang oleh orang-orang Belanda berakhir pada tahun 1942 dengan datangya pemerintahan pendudukan Jepang.
Pada masa Jepang terbentuklah pemerintah daerah Semarang yang dikepalai Militer (Shico) dari Jepang. Didampingi oleh dua orang wakil (Fuku Shico) yang masing-masing dari Jepang dan seorang bangsa Indonesia. Tidak lama sesudah kemerdekaan, yaitu tanggal 15 sampai 20 Oktober 1945 terjadilah peristiwa kepahlawanan pemuda-pemuda Semarang yang bertempur melawan balatentara Jepang yang bersikeras tidak bersedia menyerahkan diri kepada Pasukan Republik. Perjuangan ini dikenal dengan nama Pertempuran Lima Hari.
Tahun 1946 Inggris atas nama Sekutu menyerahkan kota Semarang kepada pihak Belanda. Ini terjadi pada tanggal l6 Mei 1946. Tanggal 3 Juni 1946 dengan tipu muslihatnya, pihak Belanda menangkap Mr. Imam Sudjahri, wali kota Semarang sebelum proklamasi kemerdekaan. Selama masa pendudukan Belanda tidak ada pemerintahan daerah kota Semarang. Namun para pejuang di bidang pemerintahan tetap menjalankan pemerintahan di daerah pedalaman atau daerah pengungsian di luar kota sampai dengan bulan Desember 1948. daerah pengungsian berpindah-pindah mulai dari kota Purwodadi, Gubug, Kedungjati, Salatiga, dan akhirnya di Yogyakarta. Pimpinan pemerintahan berturut-turut dipegang oleh R Patah, R.Prawotosudibyo dan Mr Ichsan. Pemerintahan pendudukan Belanda yang dikenal dengan Recomba berusaha membentuk kembali pemerintahan Gemeente seperti pada masa kolonial dulu di bawah pimpinan R Slamet Tirtosubroto. Hal itu tidak berhasil, karena dalam masa pemulihan kedaulatan harus menyerahkan kepada Komandan KMKB Semarang pada bulan Februari 1950. tanggal I April 1950 Mayor Suhardi, Komandan KMKB. menyerahkan kepemimpinan pemerintah daerah Semarang kepada Mr Koesoedibyono, seorang pegawai tinggi Kementerian Dalam Negeri di Yogyakarta. Ia menyusun kembali aparat pemerintahan guna memperlancar jalannya pemerintahan.
Sejak tahun 1945 para wali kota yang memimpin kota besar Semarang yang kemudian menjadi Kota Praja dan akhirnya menjadi Kota Semarang adalah sebagai berikut:
Mr. Moch.lchsan
Mr. Koesoebiyono (1949–1 Juli 1951)
RM. Hadisoebeno Sosrowerdoyo (1 Juli 1951–1 Januari 1958)
Mr. Abdulmadjid Djojoadiningrat (7 Januari 1958–1 Januari 1960)
RM Soebagyono Tjondrokoesoemo (1 Januari 1961–26 April 1964)
Mr. Wuryanto (25 April 1964–1 September 1966)
Letkol. Soeparno (1 September 1966–6 Maret 1967)
Letkol. R.Warsito Soegiarto (6 Maret 1967–2 Januari 1973)
Kolonel Hadijanto (2 Januari 1973–15 Januari 1980)
Kol. H. Iman Soeparto Tjakrajoeda SH (15 Januari 1980–19 Januari 1990)
Kolonel H. Soetrisno Suharto (19 Januari 1990–19 Januari 2000)
H. Sukawi Sutarip SH. (19 Januari 2000–2010)
Drs. H. Soemarmo HS, MSi (2010–2013)
Hendrar Prihadi, SE, MM. (2013-sekarang)
Daftar penguasa Semarang
Di bawah Kerajaan Demak
Kin San/Raden Kusen (1478-1529)[3]
Ki Ageng Pandan Arang
Sunan Bayat (Sunan Pandan Arang II)
Di bawah Kesultanan Pajang dan Kesultanan Mataram
Pangeran Kanoman atau Pandan Arang III (1553-1586)
Mas R.Tumenggung Tambi (1657-1659)
Mas Tumenggung Wongsorejo (1659 - 1666)
Mas Tumenggung Prawiroprojo (1666-1670)
Mas Tumenggung Alap-alap (1670-1674)
Kyai Mertonoyo, Kyai Tumenggung Yudonegoro atau Kyai Adipati Suromenggolo (1674 -1701)
Di bawah VOC
Raden Martoyudo atau Raden Sumoningrat (1743-1751)
Marmowijoyo atau Sumowijoyo atau Sumonegoro atau Surohadimenggolo (1751-1773)
Surohadimenggolo IV (1773-?)
Adipati Surohadimenggolo V atau kanjeng Terboyo (?)
Pemerintahan Hindia Belanda
Raden Tumenggung Surohadiningrat (?-1841)
Putro Surohadimenggolo (1841-1855)
Mas Ngabehi Reksonegoro (1855-1860)
RTP Suryokusurno (1860-1887)
RTP Reksodirjo (1887-1891)
RMTA Purbaningrat (1891-?)
Pemerintahan kemudian dibagi 2 : Kota Praja dan Kabupaten. Penguasa pribumi kemudian menjadi Bupati Semarang:
Raden Cokrodipuro (?-1927)
RM Soebiyono (1897-1927)
RM Amin Suyitno (1927-1942)
RMAA Sukarman Mertohadinegoro (1942-1945)
Sementara penguasa Belanda menjadi Wali Kota Semarang:
D. de Jongh (1916-1927)
A. Bagchus (1928-1935)
H.E. Boissevain (1936-1942)
Pemerintahan Republik Indonesia
R. Soediyono Taruna Kusumo (1945-1945), hanya berlangsung satu bulan
M. Soemardjito Priyohadisubroto (tahun 1946)
Pemerintahan Republik Indonesia Serikat
RM. Condronegoro hingga tahun 1949
Setelah pengakuan kedaulatan
M. Soemardjito Priyohadisubroto (1946-1952)
R. Oetoyo Koesoemo (1952-1956).
Pariwisata
Wisata Alam
Pulau Tirangcawang, di Kelurahan Tugu
Pantai Tirang, di Kelurahan Tambak Harjo
Pantai Marina, di Kelurahan Tawangsari
Pantai Maron, di Kelurahan Tambak Harjo
Goa Kreo, di Kelurahan Kandri
Taman Lele Semarang, di Kelurahan Tambakaji
Wisata Sejarah
Museum MURI, di Kelurahan Tegalsari
Museum Jamu Nyonya Meneer, di Kelurahan Muktiharjo
Museum Jawa Tengah, di Kelurahan Gisikdrono
Museum Mandala Bhakti, di Kelurahan Pindrikan Kidul
Lawang Sewu, di Kelurahan Pindrikan Kidul
Tugu Muda, di Kelurahan Pindrikan Kidul
Candi Tugu, di Kelurahan Tugurejo
Wisata Religi
Masjid Baiturrahman Semarang, di Simpanglima
Masjid Agung Jawa Tengah, di Kelurahan Sambirejo
Masjid Baiturrahman Semarang, di Simpanglima
Masjid Kauman Semarang, di daerah Kauman, Johar
Klenteng Sam Po Kong, di daerah Simongan
Gereja Blenduk, di Kecamatan Semarang Utara
Gereja Katedral Semarang di Kelurahan Randusari
Pagoda Buddhagaya, di Kecamatan Banyumanik
GOMBEL...
 Bila Anda masuk ke Kota Semarang dari arah Selatan, Anda akan melewati Tanjakan "Gombel". Nama "Gombel" menurut sejarah muncul saat Kiai Pandan Aran berziarah di sebuah makam di Gunung Jabalkat.
Tokoh yang kini namanya diabadikan untuk sebuah jalan protokol di Kota Semarang itu saat berziarah melewati tanjakan terjal dan curam. Saat itu tanjakan Gombel konon sulit untuk dilewati karena permukaannya yang berbukit.
Namun, sampai saat ini belum ada petunjuk yang menjelaskan sebab musabab pemberian nama Gombel itu. Saat jaman penjajahan, seorang Doktor Belanda, Dr.W.T.de Vogel mengusulkan pada pemerintah Belanda untuk mengembangkan daerah Semarang Selatan. Sebab, saat itu pengembangan Kota Semarang oleh Belanda hanya bagian utara dan sekitarnya. Sedangkan daerah selatan adalah daerah perbukitan yang kurang terjamah.
Rencana pembangunan itu ditentang oleh masyarakat asli Tionghoa Kota Semarang. Pasalnya, di wilayah Gunung Jabalkat yang kini dikenal kawasan Bukit Gombel Semarang itu banyak dipakai sebagai area kuburan pengganti area kuburan Pekojan. Sebab, sesuai adat Cina memindahkan jenazah bukanlah hal yang bisa seenaknya dilakukan.
Akhirnya, penguasa wilayah saat penjajahan Belanda, Mr. Baron van Heeckeren mengusulkan kuburan di sekitar tanjakan Gombel itu khusus bagi kerabat dekat yang sudah dikubur di situ. Pada saat ini kawasan tersebut adalah kawasan Kedungmundu. Pemekaran Semarang bagian Selatan dimulai pada tahun 1909. Berdalih permasalahan pemenuhan kebutuhan permukiman.
Thomas Karsten (1914) Gubernur Belanda yang merupakan ahli arsitek menyatakan Semarang Selatan merupakan salah satu kawasan yang terencana. Perencanaan tersebut saat itu digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan & memperbaiki lingkungan permukiman. Tahun 1916, Semarang Selatan mulai berkembang diawali oleh kawasan Candi Baru. Saat itu, permukimannya sangat dipengaruhi oleh arsitektur Eropa.
Pada tahun 1920-an mulai muncul perumahan di area Bukit Gombel. Letak permukiman di sana menyesuaikan kondisi alam yang ada dengan keadaan topografi yang berbukit. Selain itu, pemandangan (view) yang menarik dan indah menghadap ke arah laut di sebelah utara sekaligus pemandangan landscape kota Semarang menjadi daya tarik pembangunan permukiman di Gombel.
Namun, dari situ timbul dampak negatif dikarenakan ekosistem yang terganggu akibat eksploitasi kawasan. Pada saat hujan daerah Semarang bawah sering banjir sebagai akibat dari air kiriman yang berasal dari Semarang atas, termasuk Gombel. Selain itu, daerah Gombel juga sering terjadi longsor.
Sebenarnya longsor di Gombel bukan hal yang baru. Dulu, pada tahun 1929 ruas Jalan Gombel Lama sempat terputus karena adanya longsor tanah di daerah Watugoreh, Gombel.
Sebagai tindak lanjut dari masalah terputusnya jalan tersebut, pada tahun 1934 pihak Belanda membuat jalan baru yaitu Jalan Setiabudi. Saat ini ruas tersebut dikenal dengan Jalan Gombel Baru dan memanjang sampai ke daerah Ada Setiabudi. Sejak pembangunan jalan itu, kawasan Gombel Baru mulai ramai dengan permukiman penduduk. Dari situlah asal mulanya Gombel yang terbagi menjadi Gombel Lama dan Gombel Baru yang dipisahkan oleh hutan kecil.
Pada tahun 1950, sudah ada ruas jalan yang sudah dibangun oleh Belanda, yaitu ruas jalan Gombel Baru. Meski saat itu jalanan sudah beraspal, jalan yang dari dulu sudah dilalui bus dan kendaraan umum yang menuju Solo, Yogyakarta atau daerah selatan Semarang lainnya belumlah selebar sekarang. Bangunan di kanan kiri jalan juga tidak sebanyak saat ini. Taman Tabanas juga belum dibangun.
Di balik keindahan pemandangan di Gombel, terdapat mitos yang berkembang di masyarakat bahwa masalah-masalah yang terjadi di kawasan Gombel berkaitan dengan hal gaib. Penduduk setempat percaya bahwa ada Wewe Gombel (hantu perempuan) dan makhluk lainya penunggu bukit.
Penduduk sekitar percaya, saat terjadi bencana longsor ataupun kecelakaan, makhluk-makhluk gaib tersebut sedang marah akibat daerah pertapaannya diganggu. Konon, di tanjakan Gombel ini sering terlihat hantu Wewe yang menggoda pengemudi kendaraan yang melintas.
Pada masa lalu, di tanjakan ini memang sering terjadi kecelakaan lalu lintas yang menelan korban jiwa maupun luka-luka. Kejadiannya mulai dari secara sengaja hantu mengenakan gaun rok panjang warna putih gading menabrakkan diri, menyeberang secara mendadak maupun melambaikan tangan di pinggir jalan menanjak itu.
Disebut Wewe gombel karena kejadian ini terjadi di daerah Gombel, Semarang. Jika kita berkendaraan dari arah Jatingaleh ke arah Banyumanik, maka akan terlihat jalan penyelamatan kecelakaan berbentuk tanjakan kecil naik sekitar 75 derajat berisi material pasir. Di titik itulah konon letak lokasi Wewe Gombel berada. Beberapa orang menyebutkan bahwa lokasi tersebut adalah lokasi kerajaan hantu.
"Saya pernah mengendarai sepeda motor dari Banyumanik mau pulang menuju ke Semarang daerah Simpang Lima. Saat sampai di titik penyelamatan kecelakaan yang di sebelah kiri jalan tiba-tiba saya lihat ada wanita tinggi, mengenakan baju putih gading. Rambut panjang matanya membelalak melambaikan tangan ke saya berdiri di bibir sungai jalan. Saya merinding, langsung saya tancap gas dan wanita itu malah nekat nyebrang. Namun, saat saya berhenti wanita itu menghilang ketika sampai di tengah jalan," ujar warga, Muhammad Irfan,  Jumat (29/6).
Hantu Wewe Gombel dalam tradisi Jawa yang berarti roh jahat atau hantu yang suka mencuri anak-anak, tapi tidak mencelakainya. Konon anak yang dicuri biasanya anak-anak yang ditelantarkan dan diabaikan oleh orang tuanya. Wewe Gombel biasanya akan menakut-nakuti orang tua si anak atas sikap dan perlakuannya kepada anaknya sampai mereka sadar. Bila mereka telah sadar, Wewe Gombel akan mengembalikan anaknya.
Wewe Gombel mitos bagi masyarakat Jawa merupakan roh dari seorang wanita yang meninggal bunuh diri lantaran dikejar masyarakat karena membunuh suaminya. Peristiwa itu terjadi setelah suami dari wanita itu berselingkuh dengan wanita lain. Sang suami melakukan hal itu karena istrinya tak bisa memberikan anak yang sangat diharapkannya. Akhirnya ia dijauhi dan dibenci suaminya lalu dikucilkan sampai menjadi gila dan gembel.
Menurut cerita, hal itu yang menyebabkan sebuah hotel yang terletak di dalam lokasi bukit Gombel menjadi bangkrut. Hotel itu kini dalam kondisi tak terurus dan banyak digunakan untuk tempat gantung diri, pembunuhan dan perkosaan yang sering terjadi di malam hari. Di siang harinya digunakan untuk beberapa pemulung dan gelandangan beristirahat.
Ciri khas dari wewe gombel atau kolong wewe ini adalah bentuk buah dadanya yang besar dan menjumpai seperti buah pepaya. Kabar lain mengatakan bahwa anak-anak yang diculik oleh wewe gombel akan diberi makan kotoran manusia. Jika si anak tidak mau, maka terpaksa si anak akan suapin secara paksa.
Terkadang anak-anak yang diculik akan dihalusinasi sehingga kotoran manusia yang ia lihat seolah-olah adalah makanan lezat yang paling ia sukai atau inginkan. Tujuannya adalah membuat anak menjadi bisu agar tidak bisa menceritakan apa yang telah ia alami ataupun bentuk dari wewe gombel yang menyeramkan tersebut. Jika terjadi kecelakaan lalu lintas di Tanjakan Gombel yang disebabkan hantu wewe gombel itu, maka penduduk setempat memotong sapi lalu kepalanya ditanam di situ. Kepercayaan adat itu sudah mulai kurang terdengar namun masih bayak yang percaya.
Selain itu, di perbukitan Gombel juga terdapat bekas kuburan China. Kuburan tersebut terletak di tengah hutan yang ada di Gombel. Bukti pernah adanya kuburan di sana adalah terdapat inskripsi (batu nisan) sekitar 30 cm x 40 cm yang didirikan untuk menenangkan arwah korban kecelakaan massal rombongan pengantin dari Solo yang terjadi pada tahun 1960-an.
Selain itu, didekat batu nisan itu juga terdapat Mata Air Pengantin atau orang Jawa sering menyebutnya sebagai Sendang Pengantin. Jika sepasang rombongan pengantin akan melewati wilayah perbukitan Gombel ini harus menyembelih ayam putih mulus atau melempar uang receh supaya rombongan pengantin tidak kecelakaan dan selamat sampai tujuan.
Selain itu, sampai sekarang, banyak warga etnis Tionghoa yang mendatangi inskripsi Gombel untuk melakukan sembahyangan. Itu utamanya dilakukan pada bulan ketujuh Imlek (Jit Gwee), bulan disaat warga Tionghoa mendoakan arwah leluhur mereka.
Saat ini kawasan Gombel Baru dipadati oleh kawasan permukiman elite seperti perumahan Bukit Sari, perumahan Gombel Permai, dan belasan pengembang lain hiruk-pikuk membuka kawasan berbukit-bukit dan terjal itu.
Sejumlah restoran dan hotel pun menghias sisi lereng Gombel Baru, seperti Restoran Gombel Indah, Restoran Mutiara, Restoran Alamanda, Restoran Alam Indah, Hotel Alam Indah, Nyata Plaza, dan Bukit Asri. Di Gombel Baru juga didirikan sebuah tugu yang terkenal dengan nama Tugu Tabanas denan tamannya yang bernama Taman Tabanas.
Namun Taman Tabanas itu kini menjadi sebuah kafe yang tepat berseberang jalan titik penyelamatan kecelakaan lalu lintas, tempat wewe gombel dan istana syetan bersarang.
Kawasan Gombel Lama yang juga memiliki tempat lapangan golf, relatif lebih sepi. Di sepanjang ruas jalan Gombel Lama dipenuhi oleh perumahan kelas kebawah di kanan kirinya. Hal ini berbanding terbalik dengan yang ada di Gombel Baru. Dulu di perbukitan Gombel juga sempat terdapat hotel Sky Garden, namun hotel tersebut bangkrut dan adanya Wewe Gombel gentayangan ini disangkutkan dengan kebangkrutan hotel tersebut.
Bukit Gombel sekarang tercatat sebagai tanah tertinggi di Kota Semarang. Hal tersebut membuat kawasan Gombel saat ini juga menjadi pusat tower-tower pemancar jasa telekomunikasi, radio, dan TV. Hal tersebut disebabkan karena letak Gombel yang memang sangat pas untuk didirikan menara-menara tadi. Maka dari itu, Gombel menjadi tempat yang pas dan juga dikenal sebagai hutan tower.
Selain keberadaan hantu Wewe Gombel, indahnya pemandangan perbukitan Gombel itu dimanfaatkan pasangan muda-mudi untuk berpacaran. Di tepian bukit pasangan yang sedang kasmaran bercengkrama dan bermesraan sambil memandang panorama laut dan kerlap-kerlip lampu di malam hari. Namun, di bibir bukit itu sering terjadi penampakan mahluk halus yang disebut genderuwo.
Menurut beberapa pasangan muda-mudi yang pernah melihat penampakan itu, sebelum terlihat ada bau seperti aroma ketela yang dibakar. Aroma itu datang dengan tiba-tiba sebagai tanda bahwa sang genderuwo akan menampakan dirinya ke manusia. Penampakan dirinya biasanya bergelantungan di pohon sekitar bibir bukit tepatnya di samping Hotel Alam Indah dan berseliweran di belakang mereka saat bermesraan.
"Saat itu sekitar pukul 21.00 WIB saya lagi mojok duduk berpelukan di atas sepeda motor dengan pacar saya. Tiba-tiba bau bakaran ketela pohon menyengat. Kemudian ada sesosok makhluk asing yang saya kira saat itu seekor monyet besar. Berbulu hitam lebat, matanya merah dan tangannya panjang sampai ke kaki. Dia bergelantungan. Saya dan pacar saya merinding dibuatnya. Akhirnya saya langsung cabut," ungkap Nanang Setiawan penduduk warga Prembaen Selatan Kota Semarang.
Sebelum meninggalkan kawasan Gombel, Nanang bertanya kepada seorang petugas keamanan atau satpam Hotel Alam Indah. Dari keteranganya, memang di kawasan bibir bukit itu sering ada penampakan baik itu hantu Genderuwo, Hantu wewe gombel maupun mahluk-mahluk halus lainnya. Mereka adalah beberapa penghuni istana setan yang bergentayangan di sekitar lokasi perbukitan dan tanjakan Gombel itu. wallahualam bishshawab....
LAWANG SEWU...
 Lawang Sewu, gedung tua yang berada di pusat Kota Semarang ini sebelum zaman penjajahan Jepang adalah kantor perkereta-apian yang dikelola pemerintah kolonial Belanda. Cerita misteri, munculnya arwah noni Belanda ini berawal ketika tentara Jepang masuk menyerbu gedung, dan menjadikannya sebagai salah satu basis peristirahatan tentara Jepang.
Kala itu, terjadi pemerkosaan tentara Jepang terhadap sekitar 20 noni Belanda. Kabarnya semua noni ini terdiri dari 10 noni perawan dan 10 sudah nikah. Setelah puas menyalurkan hasratnya, para tentara Jepang memenggal kepala 20 noni tersebut. Dari situ, mistis sering munculnya noni di sekitar Lawang Sewu berawal.
Kemunculan arwah noni Belanda ini salah satunya dialami oleh Toha (46) warga Kampung Prembaen, Semarang Tengah, Kota Semarang. Toha yang mempunyai hobi memancing di sungai sekitar Lawang Sewu ini sering melihat penampakan sosok noni Belanda. Dengan rambut panjang terurai dan berbusana long dress warna putih, mondar-mandir di sekitar Lawang Sewu.
"Dia tidak mengganggu hanya menampakkan diri. Mondar-mandir dengan parasnya yang cantik namun penuh dengan darah di mukanya menebar senyum. Menakutkan memang, tetapi mau bagaimana lagi," tutur Toha kepada merdeka.com, Minggu (13/10).
Loji era Belanda tersebut lebih dikenal dengan istilah Lawang Sewu atau pintu seribu, karena ribuan pintu dan jendela tersebar di mana-mana. Sebagai gambaran, lantai dua di bagian belakang gedung memiliki sekitar 20 ruangan berjajar yang masing-masing memiliki sebanyak 6 pintu. Jika lawang bisa diartikan sebagai pintu atau pintu menyerupai jendela, maka diayakini Lawang Sewu memiliki 1000 pintu.
Namun uniknya, dari berbagai pengalaman para wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang mengunjunginya, saat menghitung jumlah pintu selalu tidak akan menemukan jumlah sampai 1000 pintu atau 1000 lawang. Hingga kini, rahasia ini diyakini sebagai mitos jika satu pintunya merupakan pintu mistis, jalan masuk arwah para penunggu gedung Lawang Sewu tersebut.
Selain rahasia pintu seribu, juga ada bagian lain dari Lawang Sewu yaitu bungker, atau ruang bawah tanah. Bungker ini sebetulnya tempat penyimpanan atau persediaan air bersih pada Zaman Belanda. Tak heran, jika sampai saat ini bangunan tersebut terus tergenang air dan harus dipompa keluar agar air tidak membanjiri objek wisata utama di Lawang Sewu tersebut.
Saat pertama turun, kami ditunjukan tempat angker dan penampakan-penampakan yang terjadi. Di ruangan pengap tersebut, terdapat beberapa lampu temaram yang masih terlihat baru. Konon dipasang lampu karena banyaknya orang yang kesurupan di tempat itu.
Pada masa Jepang, bungker itu dijadikan penjara dadakan untuk menahan para pejuang dan tentara Belanda yang tertangkap. Selain itu, tempat itu dijadikan sebagai tempat penyiksaan dan pembantaian tentara Belanda. Termasuk menyiksa beberapa noni Belanda yang dilakukan oleh tentara Jepang.
Penjara ini pada masa itu sering disebut sebagai penjara jongkok. Lima sampai sembilan orang dimasukan dalam sebuah kotak sekitar 1,5 x 1,5 meter dengan tinggi sekitar 60 cm, mereka jongkok berdesakan lalu kolam tersebut diisi air seleher. Kemudian kolam tersebut ditutup terali besi sampai mereka semua mati. Di ruang bawah tanah itu juga terdapat 16 kolam di setiap ruangan, delapan ruangan bagian kanan dan delapan bagian kiri.
Selain itu, di ruang bawah tanah itu juga terdapat penjara berdiri. Lima sampai enam orang dimasukan dalam sebuah kotak berdiamater sekitar 60 cm x 1 meter, mereka berdiri berdesakan kemudian ditutup pintu besi sampai mereka semua mati. Jika dalam seminggu mereka yang dipenjara jongkok dan penjara berdiri masih hidup, maka kepala mereka dipengggal dalam ruangan khusus. Mereka menggunakan bak pasir untuk mengumpulkan mayat tersebut. Seluruh mayat dibuang ke kali kecil yang terletak di sebelah gedung tersebut.
Konon, menurut cerita beberapa warga kali itu bernama Kali Garang. Garang, berarti negis dan kejam. Kata-kata garang dipilih karena pada masa penjajahan Belanda dan Jepang itu, seringnya terjadi penyiksaan, sehingga warna kali menjadi merah darah.
Saat pertempuran lima hari di Semarang, mayat-mayat tersebut dijadikan satu dalam delapan ruangan di sebelah kiri, kemudian ruangan tersebut ditembok untuk menghilangkan bau mayat.
KI AGENG PANDAN ARANG
Terdapat paling tidak empat versi mengenai asal-usulnya, namun semua sepakat bahwa ia adalah putra dari Ki Ageng Pandan Arang, bupati pertama Semarang. Sepeninggal Ki Ageng Pandan Arang, putranya, Pangeran Mangkubumi, menggantikannya sebagai bupati Semarang kedua. Alkisah, ia menjalankan pemerintahan dengan baik dan selalu patuh dengan ajaran – ajaran Islam seperti halnya mendiang ayahnya. Namun lama-kelamaan terjadilah perubahan. Ia yang dulunya sangat baik itu menjadi semakin pudar. Tugas-tugas pemerintahan sering pula dilalaikan, begitu pula mengenai perawatan pondok-pondok pesantren dan tempat-tempat ibadah.
Sultan Demak Bintara, yang mengetahui hal ini, lalu mengutus Sunan Kalijaga dari Kadilangu, Demak, untuk menyadarkannya. Semula Ki Ageng Pandanaran adalah orang yang selalu mendewakan harta keduniawian. Berkat bimbingan dan ajaran-ajaran Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandanaran bisa disadarkan dari sifatnya yang buruk itu yang akhirnya Ki Ageng Pandanaran berguru kepada Sunan Kalijaga dan menyamar sebagai penjual rumput. Akhirnya, sang bupati menyadari kelalaiannya, dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan duniawi dan menyerahkan kekuasaan Semarang kepada adiknya.
Sunan Kalijaga menyarankan Ki Ageng Pandanaran untuk berpindah ke selatan, tanpa membawa harta, didampingi isterinya, melalui daerah yang sekarang dinamakan Salatiga, Boyolali, dan Wedi. Namun, diam-diam tanpa sepengetahuannya, sang istri membawa tongkat bambu yang di dalamnya dipenuhi permata. Dalam perjalanan mereka dihadang oleh kawanan perampok yang dipimpin oleh yang namanya sekarang disebut Syekh Domba.
Maka terjadilah perkelahian dan untung saja pasangan suami istri ini berhasil mengatasinya akhirnya Allah SWT murka kemudian dia berubah menjadi sebuah mahluk dengan perawakan manusia tetapi berkepala domba. Setelah terjadi demikian, akhirnya dia menyadari dan menyesal dengan segala perbuatannya, kemudian menyatakan diri sebagai pengikut Sunan Pandanaran yang kemudian dibawa oleh Sunan Pandanaran ke gurunya yaitu Sunan Kalijaga yang akhirnya kepala dia berubah kembali menjadi kepala manusia seperti semula. Setelah itu Syekh Domba diberi tugas untuk mengisi tempat wudhu pada padasan atau gentong pada masjid yang berada pada puncak bukit Jabalkat, Bayat.
Akhirnya Ki Ageng Pandanaran berhasil sampai dan menetap di Tembayat, yang sekarang bernama Bayat, dan menyiarkan Islam dari sana kepada para pertapa dan pendeta di sekitarnya. Karena kesaktiannya ia mampu meyakinkan mereka untuk memeluk agama Islam. Oleh karena itu ia disebut sebagai Sunan Tembayat atau Sunan Bayat
KABUPATEN SEMARANG
Kabupaten Semarang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Kota Ungaran. Kabupaten ini berbatasan dengan Kota Semarang di utara; Kabupaten Demak dan Kabupaten Grobogan di timur; Kabupaten Boyolali di timur dan selatan; serta Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Kendal di barat.
Slogan Kabupaten ini adalah sebagai Bumi Serasi yang merupakan akronim dari "Sehat, Rapi, Aman, Sejahtera, dan Indah".
Sejarah
Kabupaten Semarang pertama kali didirikan oleh Raden Kaji Kasepuhan (dikenal sebagai Ki Pandan Arang II) pada tanggal 2 Mei 1547 dan disahkan oleh Sultan Hadiwijaya. Kata "Semarang" konon merupakan pemberian dari Ki Pandan Arang II, ketika dalam perjalanan ia menjumpai deretan pohon asam (Bahasa Jawa: asem) yang berjajar secara jarang (Bahasa Jawa: arang-arang), sehingga tercipta nama Semarang.
Ketika masa pemerintahan Bupati Raden Mas Soeboyono, pada tahun 1906 Pemerintah Hindia Belanda membentuk Kotapraja (gemente) Semarang, sehingga terdapat dua sistem pemerintahan, yaitu kotapraja yang dipimpin oleh burgenmester, dan kabupaten yang dipimpin oleh bupati.
Kabupaten Semarang secara definitif ditetapkan berdasarkan UU Nomor 13 tahun 1950 tentang pembentukan kabupaten-kabupaten dala m lingkungan provinsi Jawa Tengah. Pada masa pemerintahan Bupati Iswarto (1969-1979), ibukota Kabupaten Semarang secara de facto dipindahkan ke Ungaran. Sebelumnya pusat pemerintahan berada di daerah Kanjengan (Kota Semarang).
Pada tahun 1983, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1983 tentang Pemindahan Ibukota Kabupaten Semarang ke Kota Ungaran di Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Semarang, Kota Ungaran yang sebelumnya berstatus sebagai kota kawedanan ditetapkan sebagai ibukota Kabupaten Semarang, yang sebelumnya berada di wilayah Kotamadya Semarang. Sejak itulah setiap tanggal 20 Desember ditetapkan sebagai hari jadi Kota Ungaran sebagai ibukota Kabupaten Semarang.
Pada tahun 2005, kecamatan Ungaran dimekarkan menjadi dua, yakni Ungaran Barat, Semarang dan Ungaran Timur, Semarang.
Tahun Nama Bupati
1969-1979 Drs. Iswarto
1979-1985 Ir. Soesmono Martosiswojo
1985-1987 Drs. Sardjono
1987-1992 Drs. Hartomo
1992-1999 Drs. Sudijatno
1999-2004 H. Bambang Guritno SE MM
2004-2006 H. Bambang Guritno SE MM (Non Aktif)
2006-2010 H. Siti Ambar Fathonah (Plt.Bupati)
2010-2015 dr. H. Mundjirin ES .SpOG
Pariwisata
Potensi Sumber daya alam Kabupaten Semarang sangat menunjang kelangsungan hidup dan pertumbuhan kepariwisataan daerah yang secara kompetitif unggul dibandingkan daerah lain. Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu yang berpagut erat ditandu Gunung Telomoyo, Gajah Mungkur, Gunung Mergi serta perbukitan dengan Rawa Pening sebagai sumber inspirasi yang terus mengalir dalam sebaran bola lampu dan gemercik aliran sungai Tuntang merupakan sumber daya alami yang mampu memposisikan daerah ini sejajar lebih tinggi dari daerah tujuan wisata lain di Jawa Tengah. Didukung oleh kemudahan aksestabilitas jalur lalu lintas ekonomi menuju semua obyek wisata, menjadikan paket perjalanan wisata dapat mencapai banyak obyek wisata dalam waktu yang singkat.
Candi Ngempon
Candi Ngempon terletak di Kelurahan Ngempon Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang, berjarak sekitar 2 Km dari Pasar Karang Jati. Merupakan Situs Candi Tertua yang dapat Ditemukan di Pulau Jawa, yang diyakini merupakan pusat Penggemblengan Para Kasta Brahmana untuk dididik sebagai Mpu, atau Empu. baik dibidang, olah kanuragan, Sastra budaya maupun Kerohanian. Sehingga tempat situs Candi tersebut berada, di Kenal dengan Nama Ngempon, yang berasal dari kata Empu atau Ngempu. Sampai dengan beberapa tahun yang lalu masih sering ditemukan benda benda dan piranti untuk pembuatan keris maupun senjata lain, serta patung dan relief yang saat ini diyakini berada di beberapa musem di Jawa Tengah, Jakarta, belanda maupun sebagian besar di tangan kolektor. Di Sekitar Candi Ngempon terdapat beberapa Mata Air hangat, dan ternyata setelah digali merupakan bagian penting dari candi tersebut . Petirtaan bukan sekedar bagian dari ritual agama, namun juga sebagai penggemblengan para Empu. Dengan Kadar Mineral yang tinggi telah dimanfaatkan Air di petirtaan tersebut digunakan sebagai saraana pengobatan, pencelupan keris, disamping sebegai bagian dari upacara pensucian diri. Saat ini Candi tersebut masih cukup Aman dari penggusuran lahan, karena Kelurahan Ngempon juga merupakan Sentra industri, obat obatan baik dari Timur ( Sidomuncul) Maupun dari Barat ( PT Gracia Husada Farma), Industri Sandang ( Kamaltex), Industri Pecaah Belah ( PT Kedaung) dan masih banyak lagi. Serta di tempat itu pula bernaung para Empu Bidang Seni Misal Ki Sariyo, Bayu Ramli maupun Sang EMPUnya RS Ken Saras.
Gedong Songo
Sebuah komplek candi yang berada di kaki Gunung Ungaran, tepatnya di Desa Candi, Kecamatan Bandungan yang berjarak 9 km dari kota Ambarawa dan 12 km dari kota Ungaran. Ditemukan oleh Raffles pada tahun 1804. Candi Gedongsongo termasuk salah satu peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Sanjaya pada abad IX (tahun 921 M).Juga merupakan wisata alam dengan hawa yang sejuk dan pemandangan alamnya yang indah juga dilengkapi pula dengan pemandian air panas, area perkemahan, wisata berkuda, Wahana panjat tebing alam dan buatan. Disekitar lokasi juga terdapat Penginapan dan hotel.
Museum Perjuangan Palagan Ambarawa
Sebuah monumen sejarah Bangsa Indonesia yang dilengkapi dengan museum yang mempunyai koleksi persenjataan kuno peninggalan penjajah. Lokasinya pun mudah dijangkau, karena berada dipinggir jalan utama Semarang Jogja serta dekat dengan wisata museum kerata api karena letaknya di kota Ambarawa.
Museum Kereta Api Ambarawa di Pusat Kota Ambarawa
Wisata Sejarah sebagai satu-satunya museum peninggalan berteknologi kuno di Indonesia yang digunakan sebagai alat transportasi Bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan sampai dengan tahun 1964.
Jarak tempuh Meseum Kereta Api Ambarawa dari Kota Ungaran adalah 15 km, sedangkan dari Kota Semarang adalah 35 km. Daya Tarik Meseum Kereta Api ini berupa nilai historis dari alat transportasi berupa ketel uap yang merupakan implikasi penemuan mesin uap oleh James Watt. Museum KA juga menyediakan paket wisata menumpang kereta api tenaga uap melalui rel bergerigi dari Ambarawa menuju Stasiun Jambu pulang-pergi (PP). Di samping itu pengunjung juga dapat menyusuri tepian Rawa pening dengan menggunakan kereta wisata lori dari Ambarawa menuju Stasiun Tuntang PP.
Rawa Pening
Rawa Pening terletak di cekungan terendah lereng Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, Gunung Ungaran dan Gunung Kendali Sodo. Berada di wilayah kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang dan Banyubiru. Rawa Pening ("pening" berasal dari "bening") adalah danau sekaligus tempat wisata air dengan luas 2.670 hektar.
Jarak tempuh : - dari Kota Ungaran : 15 km, - dari Kota Semarang : 45 km, dan - dari Kota Salatiga : 5 km
Daya tarik Rawa Pening meliputi: Wisata Tirta dengan perahu tradisional, area pemancingan alam, penghasil enceng gondok sebagai bahan kerajinan, sumber mata pencaharian nelayan dan petani ikan, sebagai sarana pembangkit listrik dan obyek fotografi yang sangat mempesona.
Rawa Pening terkenal dengan legendanya Baru Klinthing
Taman Wisata Ria Permai
Agro Wisata Tlogo
Kawasan wisata agro terletak di Desa Delik, Kecamatan Tuntang berjarak 1 km dari jalan raya Semarang Solo (Tuntang). Selain kita bisa menikmati perkebunan kopi yang ada, Kebun Tlogo juga memiliki pemandangan alam yang indah yang dilengkapi pula dengan home stay, kolam renang, outbond, area pancing, dan rumah makan.
Kebun Tlogo diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah 30 Oktober 1999 sebagai bagian dari Perusahaan Daerah Perkebunan Tlogo. Obyek wisata ini bisa ditempuh dari Semarang (40 km), dari Yogyakarta (80 km), dari Solo (60 km). Obyek wisata ini terletak di ketinggian 400 - 675 m dpl (di atas permukaan laut), dengan dikelilingi oleh pemandangan berbagai obyek seperti Danau Rawa Pening, Gunung Merbabu, Telomoyo dan Ungaran. Kawasan Tlogo didominasi oleh perkebunan kopi seluas 97 ha, perkebunan karet 233 ha, perkebunan cengkeh 64 ha dan perkebunan buah-buahan tropis 20 ha (pisang, durian, rambutan, pepaya dll). Total luas area yang dikuasi pekebunan Tlogo mencakup 414 ha.
Suhu udara berkisar 23 - 30 °C, berhawa sejuk dengan panorama perbukitan. Wisatawan bisa melakukan coffee walk (menyusuri jalan setapak di sela-sela perkebunan kopi), melihat kegiatan petani sewaktu bekerja memetik buah kopi, menyadap karet. Panen kopi bersifat musiman yaitu pada periode bulan Juli sampai Oktober setiap tahun. Bahkan wisatawan diajak berkunjung menyaksikan prosesing getah karet menjadi karet. Wisatawan yang ingin bermalam disediakan cottage.
Agrowisata Kampung Kopi Banaran di Desa Asinan, Kecamatan Bawen
Bandungan di Keluranhan Bandungan, Kec. Bandungan
Merupakan tempat peristirahatan dengan kesegaran udara dalam suasana alam pegunungan penuh pesona lengkap dengan fasilitas tempat rekreasi. Terdapat pula pasar tradisional yang menyediakan sayur mayur khas Bandungan yang dapat diperoleh langsung dari petani, perhotelan dari hotel melati sampai hotel berbintang yang berjumlah lebih dari 50 buah, taman bermain anak-anak dan taman bagi orang dewasa serta kolam renang dengan kelengkapan berbagai fasilitasnya
Kawasan wisata Bandungan dapat ditempuh dari Kota Ungaran dengan jarak 12 km, dari Kota Ambarawa : 7 km dan dari Kota Semarang : 23 km.
Daya tarik kawasan Bandungan berupa wisata alam, wisata olah raga (jogging dangan hawa pegunungan, kolam renang dengan mata air alami, lapangan tennis)dengan hawa yang sejuk sejuk, pemandangan alam yang indah bernuansa pedesaan/pegunungan dilengkapi dengan Pasar Bunga, sayur dan Buah segar Kawasan ini juga sering digunakan untuk rapat-rapat, seminar, konferensi dan terdapat pula Area Perkemahaan, Tempat Peristirahatan
Sidomukti di Desa Sidomukti, Kecamatan Bandungan
Kolam di Umbul Sidomukti tergolong unik. Ia terletak di lereng Gunung Ungaran, persis di tepi jurang dan lembah Ungup-ungup. Jadinya kita seakan berada di puncak ketinggian atau kahyangan kalau berenang atau sekadar berendam di sana. Dan air umbul yang mengalir sepanjang tahun itulah sumber air utama untuk taman renang alam Umbul Sidomukti. Limpahan air tersebut meluber ke kolam di bawahnya, selanjutnya menuju kebun dan sawah-sawah. kesegaran mata air tersebut seolah mampu membasuh jiwa yang sedang penat.
Sidomukti merupakan wisata dengan konsep REAL atau Recreation (hiburan), Education (pendidikan), Adventure (petualangan), dan Leisure (pengisian waktu senggang). Di lahan PT PAS seluas 36 hektar tersebut, kini juga digunakan untuk outbound dan bumi perkemahan modern. Ada pula sekitar 400 hektar lahan Perhutani yang layak untuk wisata hutan.
Jarak tempuh : dari Kota Ungaran : 12 km, dari Kota Ambarawa : 7 km, dan dari Kota Semarang : 23 km.
Benteng Williem II
Bukit Cintadi Desa Kebondowo, Kec. Banyubiru
Terletak di Desa Kebondowo - Kecamatan Banyubiru berada di kaki Gunung Telomoyo dengan panorama Rawa Pening yang mempunyai hamparan air membiru serta pesona hijaunya bukit Brawijaya dan dapat dimanfaatkan sebagai obyek wisata, tempat untuk menikmati pemandangan telaga dan pangkalan perahu-perahu wisata yang mengelilingi telaga, dilengkapi tempat parkir dan gardu pandang dan taman bermain anak. Secara umum, berpotensi sebagai kawasan pusat olah raga perairan bagi Rawa Pening seperti dayung, ski air, para sailing, dsb.
Umbul Songo Kopeng (Lereng Gunung Merbabu)
Taman Rekreasi Kartika Wisata Kopeng
Terletak kurang lebih 14 km arah barat daya dari kota Salatiga yang di kelola oleh Puskopad A Dam IV Diponegoro, terkenal dengan suasana dan panorama alam pegunungan yang menarik, terdapat berbagai fasilitas rekreasi, seperti bungalow, kolam renang, penginapan dan restoran yang dikelilingi taman bunga, kolam pemancingan serta bumi perkemahan. Pasar sayur mayur, buah-buahan dan tanaman hias hasil pertanian masyarakat sekitar serta cinderamata khas Kopeng.
Kali Pancur
Siwarak (Tirto Agung)
Taman Pemancingan Blater di Desa Jimbaran Kec. Bawen
Taman pemancingan Blater berada di kaki Gunung Ungaran tepatnya di desa Jimbaran, Kecamatan Bawen 15 km dari kota Ungaran. Selain tempat pemancingan ikan dan rumah makan siap saji di sekitar lokasi juga terdapat kebun sayur dan buah-buahan. Nuansa alam yang indah serta hawa sejuknya menjadikan Blater semakin potensial untuk dikunjungi.
Pemandian Muncul di Desa Rowo Boni, Kec. Banyubiru
Pemandian alam dari sumber air alami yang terletak di Desa Rowoboni. Kawasan Muncul dimanfaatkan sebagi obyek wisata yang menyajikan atraksi kolam renang, pembibitan dan pemacingan ikan. Pesona hamparan sawah yang dibelah oleh sungai kecil dengan panorama alam bukit Muncul.
Bumi perkemahan dan pemandian Sendang Senjoyo
Pemancingan dan Taman rekreasi "Langen Tirto" Muncul Kec. Banyubiru
Taman Kelinci Kalibeji
Air Terjun Baladewa ( Banyubiru )
Air Terjun Semirang di Desa Gogik Kecamatan Ungaran
Wana wisata dan Bumi Perkemahan Penggaron (Ungaran)
Wanawisata Penggaron merupakan lokasi pengamatan burung (bird watching) yang cukup bagus. Selain lokasinya yang sangat dekat dengan kota, Wanawisata Penggaron juga memiliki koleksi hidupan liar terutama burung yang cukup banyak dan menarik. SBC mencatat setidaknya 97 spesies yang terdapat dalam wanawisata tersebut. Dengan beberapa spesies yang menarik seperti Merak Hijau, Elang Ular Bido, Kadalan Birah, Kadalan Kembang dan beberapa raptor migran.
Kampung Seni (Lerep Ungaran Barat)
Wisata Industri PT Sidomuncul (Bergas)
Wisata Religi
Makam Nyatnyono
Terletak di Desa Nyatnyono Kecamatan Ungaran Barat. Merupakan makam keluarga Bambang Kertonadi yang diyakini masyarakat sebagai wali, penyiaran Agama Islam. Mempunyai legenda terjadinya desa Nyatnyono. Air muncul yang ada di sendang Nyatnyono di sekitar makam dipercaya orang dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan dikenal dengan nama sendang Kalimah Thoyibah.
Vihara Gunung Kalong
Terletak di Gunung Kalong, Susukan yang dari puncaknya dapat melihat kota Ungaran. Di sini terdapat Vihara Buddha-Gaya yang hampir setiap tahun sekali dikunjungi masyarakat untuk melaksanakan nadar/kaul. Mempunyai legenda Pandanaran sebagai terjadinya Desa Susukan. Lokasi wisata ini pada tahun 2003 masuk MURI dengan naga terpanjangnya.
Gua Maria Kerep
Terletak di Panjang, Ambarawa, Semarang, merupakan tempat bagi umat Nasrani untuk menikmati ziarah sambil mengenang kehidupan Yesus Kristus 2000 tahun yang lalu, dengan memvisualisasikan beberapa tempat di israel yang dihadirkan dalam bentuk Taman Doa.
Read More

SangHyang Tikoro – Fakta Gua Misterius Bandung

20:30:00 3

Sanghyang Tikoro – Tahukah anda bahwa Kawasan wilayah Bandung dulunya adalah sebuah wilayah bekas sebuah Danau yang sangat terkenal dengan sebutan Danau Bandung Purba ? dan tahukah anda menghilangnya air danau tersebut sekaligus cikal bakal terbentuknya kawasan wilayah Bandung raya ternyata hilang di sebuah tempat yang paling misterius di dunia yang bernama Sanghyang Tikoro ?! Dan tahukah anda dari Sanghyang Tikorolah diyakini muncul sebuah peradaban yang sangat populer dan terkenal,yakni tempat hidup warga atau suku sunda di Bandung ?
Inilah salah satu tempat wisata di Bandung yang menurut penulis adalah sebuah lokasi wisata di Bandung yang paling kontroversial dan paling misterius !! lokasi wisata berupa Gua di dalam kawasan hutan yang masih perawan sehingga sulit dilewati,tersembunyi dari hingar bingar keramaian kota bandung sehingga sunyi dari aktifitas wisata dan yang paling bikin penasaran dan bergidik bulu kuduk adalah,objek wisata alam di bandung yang terkenal angker dan sangat tertutup,sehingga tak salah apabila hanya sebagaian kecil warga Bandung bahkan wisatawan yang berani masuk ke kawasan Gua Sanghyang Tikoro ini.
Nah,bagi anda yang memerlukan informasi tentang Sanghyang Tikoro Bandung baik Gua Sanghyang Tikoro,sejarah,legenda,misteri,kisah, cerita hingga mitos Sanghyang Tikoro,beserta alamat sanghyang tikoro atau lokasi sanghyang tikoro kemudian info menarik lainnya tentang salah satu wisata alam di Bandung yang cenderung tertutup ini,silahkan anda buka halaman-halaman di bawah ini satu persatu.
Baiklah kita mulai asal kata Sanghyang Tikoro dan sejarahnya seperti apa dengan membuka halaman-halaman di bawah ini…!!
Sanghyang Tikoro
Asal kata Sanghyang atu sangiang ( Bahasa sunda ) bisa diartikan sesuatu yang dianggap suci,seperti dalam kata sanghyang widi berarti maha pencipta/dewa,sementara tikoro bisa diartikan dalam bahasa indonesia adalah tenggorokan,jadi apabila ditanya apa makna Sanghyang tikoro,maka jawaban paling mudah dicerna adalah dewa tenggorokan atau tenggorokan penguasa yang sangat disucikan keberadaanya.
Membicarakan tentang sejarah terbentuknya wilayah Bandung, sepertinya belum lengkap alias afdol apabila kita tahu sejarah atau hal ikhwal tentang Guayang ada di Sanghyang Tikoro. Gua bawah tanah yang dialiri oleh salah satu Sungai yang membelah wilayah Bandung yakni sungai Citarum ini sangatlah membuat kita penasaran dan terpancing untuk mengetahuinya,karena memang fakta hingga detik sekarang,apabila kita mencoba mengungkap sanghyang tikoro ini selalu dihinggapi rasa yang aneh dan takut untuk mengungkap fakta yang sebenarnya,apa yang telah terjadi di saat bandung zaman dahulu/purba dan juga misteri apa yang ada di dalamnya.
Jujur penulis juga pernah merasakannya,meskipun penulis pernah tinggal 20 tahun di daerah Soreang Bandung,namun tak pernah ada satu pun teman atau rekan kerja penulis yang warga bandung asli,mencoba mengajak bahkan mengenalkan sejarah dari Sanghyang tikoro ini sedikitpun.Hanya satu hal yang bisa ditangkap dari sekian obrolan dan cara pandang mereka warga pribumi bandung adalah,tempat wisata alam di Bandung yang sesungguhnya menyimpan potensi yang sangat luar biasa ini yakni,sangat menyeramkan karena penuh dengan hal mistis dan sangat tertutup informasinya untuk umum.Yang pasti mereka sangat tahu,bahwa tempat itu adalah cikal bakal kota Bandung berada,dan konon katanya dari situ pulalah kota bandung akan hilang kembali..?!!
Nah berbekal rasa penasaran serta tuntutan penulis yang merupakan admin dari blog Tempat Wisata di Bandung ini,yang punya tugas memberikan setiap informasi penting tentang tempat-tempat terbaik dan indah di Bandung untuk anda atau yang memerlukan informasi,maka seperti memaksa penulis untuk mengumpulkan sejumlah informasi tentng latar belakang sejarah dari sanghyang tikoro ini,dan berikut adalah petikan informasi yang berhasil penulis dapatkan,semoga bisa menambah wawasan anda tentang objek wisata di Bandung barat ini lebih dalam sekaligus bisa membuka wawasan bahwa sanghyang tikoro tidaklah angker dan kita bisa datang ke sana dengan tujuan wisata yang bisa membuat kita nyaman tanpa ada kekhawatiran atau rasa takut berlebih lagi.
Sejarah Gua Sanghyang Tikoro
Sejarah Bandung Purba mencatat,Sekitar 20-30 juta tahun yang lalu wilayah yang terletak di antara kecamatan Rajamandala dengan kecamatan Cipatat, Bandung Barat bersebelahan dengan PLTA Saguling sekitar 17km dari pusat bendungan dan ada diwilayah turbin terakhir ini adalah wilayah perairan danau Bandung dengan terumbu karang indah dengan kedalaman sekitar 10 hingga 20 meter. Fakta sejarah menyebutkan bahwa Terbentuknya gua bawah tanah ini membuktikan bagaimana luar biasa hebatnya proses erosi dari aliran Citarum yang deras sehingga mampu melubangi batuan kapur yang ada di wilayah ini.
Seperti diungkap fakta yang menyebutkan bahwa Aliran Citarum itu ternyata memiliki 2 cabang. Satu cabang mengalir ke arah kiri, seperti sungai terbuka biasa, yang satu lagi ke arah kanan, dimana airnya menghilang ditelan gua batu kapur Pasir Sangiangtikoro, menjadi terowongan/sungai bawah tanah. Batuan kapur di Sangiangtikoro disebut batu gamping, batu kapur, atau batu karang. Batuan kapur memiliki banyak rekahan yang memudahkan air menyelinap mengisi retak-retak setipis selaput buah salak sekali pun.Batu kapur itu sendiri merupakan hasil kegiatan organik, kehidupan laut, seperti hewan dan tumbuhan laut. hampir mirip halnya dengan peristiwa sejarah sekitar 23 juta tahun yang lalu, yang mana Pulau Jawa belum seluruhnya muncul di permukaan laut. Binatang koral mengendap di laut dangkal yang jernih antara Tagogapu Rajamandala – Palabuanratu.Batu kapur yang bahan proses terbentuknya adalah terdiri dari kalsium karbonat (CaCO3). Batuan kapur ini dapat larut dalam air yang menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) yang berasal dari atmosfer, yang pada umumnya terdapat di semua perairan permukaan. Sungai bawah tanah Sangiangtikoro adalah hasil proses pelarutan sehingga dipercaya sebagai tempat bobolnya Danau Bandung Purba dan sering disebut Sanghyang Tikoro Rajamandala
sanghyang tikoro
sanghyang tikoro
Gua Sanghyang tikoro yang diyakini memiliki panjang kedalaman di bawah tanah hingga lebih dari 800 meter ini juga,telah diyakini oleh seorang ahli geologi berkebangsaan belanda van Bemmelen sebagai tempat bobolnya Danau Bandung Purba.Menurutnya,ada
kesamaan atau hubungan urutan sejarah,antara kejadian munculnya gunung tangkuban perahu dengan legenda cerita rakyat Sangkuriangnya dengan proses geologi di wilayah Bandung.Lantas pendapat Van bemmelen pun diamini oleh hampir semua ahli geologi indonesia seperti J.A. Katili, sehingga semua guru lulusan B-1 Ilmu Bumi yang memakai buku Geologi Indonesia memercayai pula bahwa Danau Bandung Purba bobol di tempat wisata bandung yang menarik dan penuh misteri ini yakni Sanghang tikoro.
Menurut sumber di wikipedia kisah atau cerita rakyat Legenda Sangkuriang sangat mirip alias sesuai dengan fakta geologi terciptanya Danau di Bandung dan Gunung Tangkuban Parahu.Penelitian geologis mutakhir menunjukkan bahwa sisa-sisa danau purba sudah berumur 125 ribu tahun. Danau tersebut mengering 16.000 tahun yang lalu.Telah terjadi dua letusan Gunung Sunda purba dengan tipe letusan Plinian masing-masing 105.000 dan 55.000-50.000 tahun yang lalu. Letusan plinian kedua telah meruntuhkan kaldera Gunung Sunda purba sehingga menciptakan Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Burangrang (disebut juga Gunung Sunda), dan Gunung Bukittunggul.melihat fakta tersebut Adalah sangat mungkin bahwa orang Sunda purba memang telah menempati dataran tinggi Bandung dan menyaksikan letusan Plinian kedua yang menyapu pemukiman sebelah barat CiTarum (utara dan barat laut Bandung) selama periode letusan pada 55.000-50.000 tahun yang lalu saat Gunung Tangkuban Parahu tercipta dari sisa-sisa Gunung Sunda purba.
Nah,demikianlah sepenggal kisah atau sejarah dari tempat wisata di Bandung barat Gua Sanghyang Tikoro,untuk halaman selanjutnya penulis akan memberikan info wisata bandung yang terkenal angker menurut warga bandung dan sekitarnya kepada anda,silahkan buka kembali halaman-halaman di bawah ini, dan kita mulai dengan Misteri Gua Sanghyang Tikoro terlebih dahulu.
Mitos Sanghyang Tikoro
Diantara fakta ilmiah atau keilmuan yang sangat begitu kuat penulis paparkan di atas,ternyata salah satu wisata alam bandung ini memliki banyak mitos dan juga misteri yang layak untuk anda ketahui juga.Ternyata selain nilai sejarah sanghyang tikoro yang begitu luar biasa dan tak ternilai,didapati juga fakta yang sungguh akan membuat anda terpelanga alias aneh dan seram,kalau enggak dibilang berbau mistis,gak percaya ? coba lihat fakta mitos dan juga misteri sanghyang tikoro Bandung.
sanghyang tikoro
sanghyang tikoro
Kemanakah aliran air setelah masuk Gua Sanghyang Tikoro ?! Ketika anda datang ke lokasi sungai bawah tanah yang ada di Gua Sanghyang Tikoro. Disini anda akan dipaksa untuk berpikir dan merenung kemanakah aliran air yang masuk ke Gua sanghyang tikoro ini akan keluar atau ke arah mana ? yang jelas misteri sanghyang tikoro yang satu ini,hingga detik ini tidak ada yang pernah berani menjawab atau menerangkan secara ilmiah pun.!! tak ada yang tau pasti, aliran air sungai yang masuk ke  “Gua Misteri†ini keluarnya dari dan ke mana.
Mitos yang berkembang di masyarakat sekitar dan juga yang pernah berkunjung ke Gua Sanghyang Tikoro adalah,apabila anda  memasukan suatu barang apapun  kedalam aliran sungai yang masuk ke gua sanghyang tikoro, maka konon katanya beberapa saat kemudian,anda bakal mendengar suara jeritan yang berasal dari dalam gua sanghyang tikoro tersebut.
Selain memiliki sejarah dan keindahan alam di sekitarnya yang masih perawan karena belum terjamah oleh pendiuduk apalagi wisatawan, maka seringkali tempat wisata alam di bandung ini dijadikan sebagai tempat ritual yang startegis dan populer bagi orang-orang tertentu seperti tapa alias semedi,terutama bagian atas atau pinggir Gua sanghyang tikoro.
Believe it’s or not ? silahkan anda mencari jawaban untuk pembuktian hal tersebut dengan mendatangi langsung sanghyang tikoro yang ada di bandung ini..!! nah sebagai panduannya,silahkan ikuti petunjuk di halaman bawah ini :
Peta lokasi Sanghyang tikoro
Seperti yang sudah penulis sebutkan di atas,keterasingan serta kesunyian yang melingkupi wilayah wisata di bandung barat ini masih perawan,Belum banyak pengunjung atau pelancong baik warga bandung asli sendiri apalagi wisatawan luar daerah yang sengaja khusus dateng kesini karna berbagai alasan. Selain belum tersedianya sarana informasi seperti petunjuk khusus untuk bisa sampai ke tempat ini,juga belum terkelolanya dengan baik sehingga akses menuju lokasi ini dirasa masih jauh dari layak untuk sebagai lokasi wisata yang baik.Tapi apabila anda mencoba untuk memaksa masuk ke salah satu “wilayah terlarang” di bandung ini,maka sebagai patokan adalah setelah belok ke pintu gerbang waduk saguling dari jalan raya Bandung-Cianjur sekitar satu kilometer.Setelah berjalan sebentart anda akan menemukan papan bertuliskanpower house. Dari sana anda tinggal ikuti arah kanan dan akan menemukan bangunan besar pembangkit listrik yang Power House tadi. Sanghyang tikoro tepat berada disebelah Power House.
Nah demikianlah info wisata di bandung yang wajib anda kunjungi sekaligus membuktikan mitos sanghyang tikoro yang selama ini melingkupi tempat tersebut,jadi tunggu apa lagi,silahkan datang langsung ke Sanghyang Tikoro.
Read More